May
22

“Put….lo udah permanent?”

“Ngga tau deh….habis HRDnya juga ngga pernah ngasih tau hasil panelnya”, jawabku sekenanya.

“Emang gaji lo selama ini berapa?”, ngga basa basi….

“Hmmm….ya…segitu lah…”

“Serius nih berapa gaji pokoknya? Kalo gaji lo nambah, berarti lo udah permanent”

 

Waduh….mesti aku jawab kah? Pertanyaan, yang bagi kebanyakan orang terdengar sangat sensitif.

 

Tapi akhirnya…..

Aku jawab, ”Semilyar…” (Hehehe….’semilyar’ cuma buat gantiin nominal tertentu yang sebenernya gue sebutin. Ya iya lah….mana ada staf digaji semilyar!)

Dan benar saja….menyebutkan nominal gaji itu adalah keputusan yang salah! Karena setelah itu ada seorang staf baru juga, baru 1,5 bulan, yang tampak kaget,”Serius lo?”

“Emang kenapa?”, tanyaku.

“Kok di kontrak, gaji gue cuma 999.999.000 perak….kok lo bisa dapet lebih gede ya?”

Kok gue bisa dapet lebih gede????

Kok gue bisa dapet lebih gede?

“Kok nanya ke gue? Mene ke tehe!!”, maunya sih jawab kayak gitu aja. Hahaha…tapi ngga lah.

Hmmm…ngga langsung jawab sih. Mikir dulu. Menemukan jawaban yang paling enak didengar telinga siapapun, ngga bikin ngiri siapapun.

“Di kontraknya sih emang segitu. Dan gue udah tanda tangan kontrak sejak bulan Juli lalu. Kayaknya emang ada beberapa perbedaan di poin kontraknya deh. Tapi waktu masuk kesini bulan November, kontrak yang lama diminta lagi sama HRD, katanya ada yang mau diperbarui, mungkin terkait sama gaji juga.” Aku jawab apa adanya. Entahlah….semoga jawaban itu ngga menimbulkan prasangka apa-apa.

Fiuh…

 

Satu pelajaran yang bisa didapat dari kejadian ini: Jangan sekali-kali nyebutin nominal gaji di depan temen kerja lo….apalagi yang selevel. Kata Nenek itu BERBAHAYA!

Apr
14

“Kenapa senang?”

Pertanyaan itu akan terjawab jika pertanyaan dimulai dari, “Dimanakah Put berada sekarang?”

Aku di kantor sekarang. Dan untuk pertama kalinya aku bisa posting di blog-ku tercintah ini dari kantor. Padahal sebelumnya boro-boro posting, masuk ke account wordpress-ku aja nda bisa.

Barusan iseng-iseng aja nengokin si Blog yang udah berminggu-minggu ngga di-update. Trus iseng-iseng juga masuk ke wordpress n masukin nama accountku, ternyata….Berhasil!!! Mulai saat ini aku bisa tiap hari ngupdate blog nih…hwehehehe…

Udah ah…back to work!!!!!!

Mar
31

Kejadian pada hari Senin tanggal 30 Maret 2009.

Tidak seperti biasanya, aku merasa hari ini bus kopaja yang rutenya melewati tempat kerjaku agak langka, kalaupun ada selalu penuh. Kalau mau nekat, mungkin aku udah naik bus itu, berdesak-desakan di pintu masuk bus, dan tinggal berdoa semoga selamat sampai tujuan, tapi dengan bawaanku pagi ini, hampir mustahil aku melakukan itu.

Sebuah tas laptop dan plastik besar yang berisi dua binder besar beuuraaattt pisan cukup membuatku berpikir berkali-kali-kali-kali untuk naik bus yang tak kunjung kosong ituh.

Akhirnya…aku memutuskan naik taksi saja.

Sebuah taksi putih melintas, aku menyetopnya…berhenti, tapi…seseorang yang lain malah menaikinya. “Ohh..rupanya si taksi berhenti karena melihat orang itu menghentikannya, bukan aku”.

Tak berapa lama, sebuah taksi lain melintas. Aku sebenarnya tidak menyetopnya, karena melihat lampu di atas taksi itu tidak menyala, “Pasti sudah ada penumpangnya”, kupikir. Tapi si sopir yang memberi isyarat dari dalam taksinya membuatku melangkah mendekati taksi itu dan tanpa ragu memasukinya, lagipula sudah hampir jam setengah 9, aku ga mau datang lebih terlambat dari jam masuk resmi kantorku. Sedetik setelah mengambil keputusan menaiki taksi itu, “Aku menyesal”. Kenapa?

1.      Penampilan si sopirnya amat kurang menyenangkan dilihat. Sama sekali tidak rapi, menunjukkan ketidakprofesionalan dan ketidakrapian manajemen pengelola taksinya.

2.      Taksi itu tidak berargo. Sampai aku berpikiran, “Jangan-jangan si sopir akan memerasku dengan meminta ongkos yang lebih tinggi dari harga normal setelah sampai tujuan nanti”.

3.      Bahkan dia tidak tahu rute yang harus ditempuh ‘hanya’ dari Semanggi ke BEI. Beberapa kali dia menanyakan jalan, “Dari sini kemana? Terus belok kemana? Masuknya lewat mana?”. Hadoooh….lama-lama cape hati juga menjawabnya.

 

Pelajaran berharga yang kudapat:

Pilihlah merek taksi yang terpercaya!

 

Tercatat sudah dua kali aku merasakan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan dengan taksi. Yang pertama, ketika aku dengan mata minusku keliru naik taksi yang amat mirip dengan taksi biru (satu-satunya taksi yang kutau tidak menempelkan stiker ‘tariff bawah’ di kaca jendela depannya). Dan aku baru sadar “Aku tertipu oleh mataku” ketika kulihat di kaca jendela taksi itu ada tulisan ‘tariff bawah’nya. Bukan sok-sokan ngga mau naik taksi dengan ‘tariff bawah’, hanya saja saat itu sudah terlalu malam untuk naik taksi yang aneh-aneh, dan kebetulan yang banyak melintas saat itu ya..taksi biru, termasuk taksi biru penipu itu. Dan ternyata pelayanannya pun tidak memuaskan.

 

Pelajaran berharga lagi yang kudapat:

Teliti sebelum menyetop taksi!

 

Tapi, di luar itu semua, ada juga pengalaman lucu sehubungan dengan taksi, ketika suatu hari aku naik taksi dengan seorang temanku. Obrolannya ngalor ngidul sampai ujung-ujungnya kita ngobrolin taksi, tanpa sengaja dia bilang, “Lo kalo pulang malem mending naik taksi X aja, lebih aman dan….bla..bla..bla..”, padahal saat itu kita berada dalam taksi Y. Langsung aja si sopir bereaksi, tersinggung,”Hati-hati Mas kalo bicara, emangnya sopir taksi yang bukan sopir taksi X itu perampok? Penjahat? Bla…bla…bla….bla…”, walah ngomel-ngomel deh…Temanku pun tidak berkutik.

Lagi-lagi pelajaran berharga yang kudapat:

Jangan menyebut kelebihan taksi X saat kita berada di taksi bukan X. Hahaha…makasih B buat satu pelajaran berharganya.

Mar
31

Yuhuuu….masih di kantor neh…

Sekarang udah tanggal 31 Maret 2009, hampir jam 3 pagi, padahal aku berangkat dari kostan sehari sebelumnya, atau tanggal 30 Maret 2009 jam 8 pagi. Artinya….aku nyaris sehari semalam di kantor. Diperkirakan dengan tingkat keyakinan nyaris 100%, hari ini aku ga akan pulang sampai ketemu jam 8 pagi berikutnya.

Ga masalah…semoga ini yang terakhir (setidaknya) untuk minggu ini, mengingat dan mengenang (halah) klienku sekarang adalah emiten yang listing di BEI, maka laporan keuangan auditannya udah harus dilaporkan paling lambat tanggal 31 Maret.

Beruntunglah aku masuk tim yang orang-orangnya (secara emosi) stabil. Dalam keadaan se-rusuh apapun belum pernah terjadi persitegangan (siapa yang pernah make kata ‘persitegangan’ ini sebelumnya? Kok terdengar aneh ya?!?!?!), yang ga mengenakkan hati.

 

(Nah sekarang mulai nyambung ke cerita yang menginspirasi judul di atas)

 

Tapi ada sedikit hal sepele yang mengganggu kenyamananku hari ini (eh…hari kemaren).

Siang kemarin, untuk kedua kalinya aku dijutekin ‘orang itu’.

Aku sebut orang itu sebagai ‘orang itu’, karena aku tidak pernah mengenalnya.

Mungkin dasarnya dia memang jutek, tapi ngejutekin orang yang sedikit ‘sensitif’ kayak aku, bisa berakibat luka gores yang sangat tipis di hati, tapi membekas. Aku sakit hati. Benar!

“Memaafkan itu lebih baik bukan?”. Ya…aku berusaha memaafkan dia. Tapi aku sering ngga habis pikir sama orang-orang seperti dia, yang bisa dengan mudahnya ngejutekin orang tanpa alasan.

Kejadian pertama, dia pernah bilang, “Misi dong!”, meminta jalan, dengan nada yang lebih terdengar seperti menyuruh daripada meminta, dengan ekspresi…Jutek abis.

Kejadian kedua, dengan ketusnya dia menegurku ketika aku menggunakan mesin fotocopy terlalu lama, dan saking kesalnya menunggu, dia melengos pergi dengan delik mata dan decakan kesal.

Padahal untuk dua kejadian di atas, aku rasa semua orang bisa melakukannya dengan lebih sopan.

 

Hah…sudahlah…ujung-ujungnya aku harus berpikir bahwa ini hanya prasangka burukku saja.

Tapi juga bisa menjadi pelajaran bagi siapapun, termasuk buat aku, untuk lebih berhati-hati dengan sikap dan ucapan kita, karena kita tidak pernah tahu, apakah hati setiap orang berkenan dengan apa yang kita lakukan dan ucapkan?

Mar
20

*

“Kok pulangnya malam banget….kebagian shift malam ya Mbak?”, Tanya seorang supir taxi yang mengantarku pulang, saat suatu hari aku meninggalkan klien jam 12 malam.

“Oh ngga Pak. Emang udah mendekati deadline, jadi kerjaannya lebih banyak”

“Oh tapi masuknya tetep dari pagi gitu?”

“Iya Pak”, jawabku malas. Ngantuk!

“Emang kerja apa Mbak?”

“Auditor”

“Ooh…”, hanya itu, nada ‘ooh’ yang lebih terdengar sebagai tanda ‘tidak mengerti’

 

**

“Emang ngedit apa sih Mbak sampai semalam ini?”

Ngedit? Apa aku yang salah dengar? Tapi tetap kujawab, “Laporan keuangan Pak”

“Ooh. Kok diedit, bukannya SA (menyebut nama klienku) itu perusahaan pengembang gitu ya?”

Sekarang aku yakin ga salah dengar, tapi Bapaknya yang salah tangkap.

“Ga ngedit Pak, tapi ngeaudit”, jawabku mengoreksi.

“Ooohh…ngeaudit, soalnya tadi ketemu Satpam di depan gedung SA, katanya yang suka pulang malam itu editor”

Dan percakapan pun berlanjut……

Tetap…..seputar mengapa kami pulang semalam ini.

 

***

Tadi malam…..

Untuk yang keempat kalinya aku kena razia Polisi.

 

Yang pertama….

Lolos….mereka membiarkanku melanjutkan perjalanan setelah melihat KTP-ku.

 

Yang kedua….

Aku satu taksi bersama teman-temanku. Kami berlima diminta turun. Tas dan KTP kami diperiksa satu per satu, tidak ketinggalan pertanyaan, “Dari mana malam-malam gini?” terlontar. Tapi…lolos.

 

Yang ketiga….

Lagi-lagi aku satu taksi bersama teman-temanku. Tidak ada satu KTP pun yang diminta. Si Polisi hanya sempat melihatku duduk di kursi depan, dan bertanya, “Dari mana? Mau kemana?”, terdengar ramah, dan menyilakan kami melanjutkan perjalanan. Lolos…

 

Yang keempat….

Tadi malam. Aku sendirian. Pulang jam 1 malam. Ketika seorang polisi memberhentikan taksiku di tengah jalan, aku langsung mengeluarkan KTP-ku. Si Polisi memeriksa STNK dan SIM si Sopir Taxi. Sesekali si Polisi melihat ke kursi belakang tempatku duduk. Samar-samar aku mendengar dia meminta KTPku. Aku tidak begitu jelas mendengarnya. Untuk yang kedua kali dia meminta KTP-ku. Aku serahkan KTP itu lewat jendela dekat Pak Sopir. Lama…..5 detik…10 detik…15 detik…sampai setengah menit berlalu. Butuh selama itu kah hanya untuk melihat nama dan alamat KTPku?

Lalu aku melihat Polisi itu berjalan memutari taksi lewat belakang taksi, dan mengetuk pintu kiri belakang taxi, dekat dengan tempatku duduk. Aku membuka pintu tanpa niat sedikit pun untuk beranjak turun. “Ada-ada saja…”, kataku dalam hati.

“Mbak dari mana mau kemana?”

“Pertanyaan itu lagi”

“Saya dari Plaza SA mau ke Benhil”, jawabku tegas.

“Ke Benhil kemana Mbak”

“Kostan saya”, jawabku pendek-pendek.

“Mbak habis ngapain, malam-malam gini?”

“Kerja”

“Boleh liat kartu kerjanya?”

Ah…inilah yang aku khawatirkan. Bahkan ID card pun aku belum punya karena selama ini lebih banyak menghabiskan hari-hari di klien.

“Belum ada, saya belum dapat ID dari kantor saya”

“Bisa turun dulu ngga Mbak?”, dia memintaku turun dari Taksi, dengan nada….entahlah…di telingaku itu terdengar kurang ramah.

“Mbak udah berapa lama kerja di Jakarta?”

“Tiga bulan”

“Kenapa masih pake identitas Bandung? Mbak seharusnya bikin KTP Jakarta”

“Mbak orang berpendidikan kan?”

Ekspresiku berubah seketika. Tersinggung. Sangat. “Hah?”, jawabku, hanya membuat si Polisi mengulangi pertanyaannya, “Mbak orang berpendidikan kan? Tau operasi yustisi kan? Kalo ga punya KTP Jakarta Mbak bisa kena”

Aku hanya mengangguk-angguk malas dan jawab sekenanya, “Ya..ya…”, pertanyaan Polisi barusan sudah cukup menghilangkan keinginanku untuk menjawab dengan lebih ramah.

Dia menyodorkan KTPku, sambil berkata, “Sebaiknya Mbak segera buat KTP Jakarta”

Aku mengambil KTP itu, sambil beranjak naik kembali ke taksi aku jawab,”Iya…kalo sempet pasti saya bikin”. Sebal!

Mar
19

Aku sangat menghargai perbedaan. Aku tidak pernah mempermasalahkan jika harus bekerja sama dengan orang-orang yang secara prinsip berbeda denganku, selama kami bisa saling menghargai. Dari dulu pun aku merasakan hidup di tengah masyarakat yang heterogen. Berbeda suku, bahasa, bahkan agama. Satupun tidak pernah menjadi alasan renggangnya hubungan pertemanan.

 

Tapi berada satu ruangan bersama orang-orang yang secara prinsip sangat berbeda dengan kita kadang-kadang menjadi sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, apalagi ketika mereka membicarakan orang-orang yang berprinsip sama dengan kita dari sudut pandang mereka.

 

Awalnya hanya….

“Put, rambut lo segimana sih? Gue penasaran…buka dong, kan disini ngga ada cowok”

“Ngga”, jawabku tegas.

“Emang kenapa? Kan ga ada cowok juga disini?”

“Ngga dong. Malu.”

“Lagian mana boleh rambutku dilihat sama kalian”, lanjutku dalam hati.

Dan pembicaraan pun memanjang ke topik yang lebih luas.

“Kenapa sih….kalo orang yang awalnya pake jilbab, terus tiba-tiba buka jilbab pasti dipermasalahkan, kayak yang aneh gitu…kayak waktu si A (menyebut nama artis) buka jilbab….bla…bla…bla…. Tapi kalo orang yang ga biasa pake jilbab, ya dibiarin aja ga pake jilbab”

“Put…kalo orang pake jilbab itu pacarannya gimana?”, tanya yang lain.

“Nanti kalo udah nikah baru boleh pacaran”, jawabku.

“Lucu kali ya kalo nanti udah nikah terus masih malu-malu gitu sama suaminya”

“Kalo sama suami sih boleh buka-bukaan”, jawabku.

“Kan gue pernah tuh Put liat video dari CCTV gitu, ada orang pake jilbab, pake rok gitu, kerekam lagi pacaran, terus…..bla…bla…” dia pun menceritakan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan oleh orang yang tampak memakai jilbab itu.

Ah….begitu banyak cara yang musuh kami lakukan untuk memfitnah kami. Jilbab, sebagai identitas khusus yang dimiliki muslimah pun dikotori dengan video fitnah murahan seperti itu. Video yang mungkin hanya disebar di kalangan mereka hanya untuk dijadikan bahan lelucon dan olok-olokan.

“Pasti orang iseng”, jawabku. Bagaimana caranya aku harus mengatakan, “Pasti itu fitnah. Yang melakukan pasti orang-orang yang memusuhi Islam”

“Jadi ilfeel”, seorang yang lain menimpali cerita video CCTV itu.

Ilfeel? Bahkan mereka yang tidak mengerti kami pun, dengan cepatnya menyimpulkan “Ilfeel” hanya dengan mendengar cerita itu. Apakah berarti dari awal mereka sudah menyimpan benih prasangka buruk terhadap kami?

Lalu pembicaraan pun semakin meluas. Kali ini mereka membahas Saudara-saudaraku yang memilih untuk bercadar, dengan pakaian-pakaian gelap.

“Kalo yang kayak gitu tuh Islam apa sih Put?”

“Islam ya Islam….ga ada Islam apa atau apa. Rasulullah itu kan punya banyak murid, setiap murid bisa aja berbeda dalam menafsirkan ajarannya”. Gitu aja. Dia hanya mengangguk-angguk. Aku ngga yakin dia betul-betul mengerti.

“Lucu kali ya kalo orang-orang (bercadar) itu ngumpul trus suaminya datang salah ngegandeng orang. Mereka kan cuma keliatan matanya doang. Jadi susah dibedain..hahahaha”. Mereka benar-benar menjadikannya bahan olok-olok.

“Trus pernah juga gue ditunjukin foto keluarga gitu, Ibunya pake cadar, anak-anak ceweknya pake cadar, ampe susah dibedain yang mana Ibunya, yang mana si A, yang mana si B”…

“Hahaha….”, lagi-lagi.

“Kalo orang bule ke Arab gimana ya? Mesti pake yang kayak gitu juga ga sih?”

“Itu sih gimana si bule menyesuaikan diri aja. Contohnya kayak orang bule datang ke Indonesia. Mereka harus berpakaian sopan dong, sesuai budaya disini, ngga bisa buka-bukaan kayak di negara mereka.”, jawabku.

“Oh…jadi jilbab atau cadar itu budayanya orang Arab”

“Bukan budaya. Kalau di kita sih pakai jilbab itu wajib, ngga cuma orang Arab”

“Maksudnya kok ampe tertutup banget gitu ya? Di Arab kan panas, emang mereka ngga kepanasan?”

“Iklim juga mempengaruhi cara berpakaian muslimah disana. Lelaki Arab cenderung punya nafsu yang lebih besar”

“Itu karena cewek-cewek disana pada tertutup semua, jadi kalo liat daging dikit aja pasti bikin cowok-cowok disana nafsu”

 Yang lain mengamini, “Iya. Habis dari dulu cewek-cewek disana pakaiannya tertutup. Coba kalo dari dulu mereka ga (berpakaian tertutup) kayak gitu, pasti cowok-cowok disana juga biasa aja. Contohnya kayak di Amerika. Orang kan bebas berpakaian terbuka kayak gimana pun, makanya angka kasus pemerkosaan disana itu kecil. Lagian disana udah boleh free sex juga.”

Oh Allah….bahkan mereka membandingkan kami dengan bangsa b*j*d itu. Dimana manusia bertingkah laku hanya mengikuti nafsu layaknya b***tang.

Seringkali, DIAM, tidak menyelesaikan masalah, tidak juga menyelesaikan kedongkolan dalam hati, bahkan bisa menimbulkan prasangka lain lagi. Tapi….saat itu aku hanya diam. Pikiran mereka telah terlanjur dipenuhi berbagai prasangka (buruk). Satu kata dariku hanya menimbulkan lebih banyak prasangka dari mereka.

Oh Allah maafkan sikap diamku. Seharusnya aku bisa bersikap lebih tegas.

Mar
19

ASMI?

Beberapa bulan yang lalu aku mulai mengenal nama baru itu, saat seniorku bilang,

“Nanti kalo mau ke klien dari Benhil bisa naik busway, transit di Harmoni, trus naik bus jurusan Pulogadung berhenti di halte ASMI, dari halte situ keliatan kok gedung kliennya”

“Ya…ASMI”, ulangku dalam hati, mencoba menjejalkan kosakata baru itu di otakku yang sudah penuh dengan ingatan-ingatan pendek.

 

Di hari berikutnya….

“Akhirnya sampai juga….halte ASMI”. Ternyata ASMI itu bukan nama suatu wilayah. Di satu sisi jalan berseberangan persis dengan halte busway, ada gedung bertingkat entah berapa lantai yang didominasi warna ungu, di atas pintu masuk gedung itu tertera tulisan besar-besar berbunyi, “A S M I”, tanpa ada keterangan tambahan, apa kepanjangannya.

“Ooohh….nama kampus.” Kataku dalam hati, “tapi kepanjangannya apa ya?”, tanyaku (lagi-lagi) dalam hati.

 

Keingintahuanku tentang ASMI dan kepanjangannya terlupakan begitu saja dengan berlalunya waktu, walaupun setiap hari tulisan besar-besar berbunyi ASMI itu selalu menyambutku di luar halte busway.

Sampai akhirnya tadi pagi, “Udah hampir 4 bulan, dan aku belum tau, apa kepanjangan ASMI.” Aku kembali bertanya-tanya dalam hati.

 

Aku mencoba menebak-nebak….

 

ASMI ya?

 

“Aku Suka Makan Indomie”….ah tidak mungkin ada orang membangun sekolah hanya untuk mencetak para ahli makan mie.

 

“Air Susu maMI” Hm…mungkin ini sekolah khusus para ibu muda yang baru punya bayi.

 

“Ayah Sedang Memancing Ikan”, Hahaha…malah jadi teringat pelajaran Bahasa Indonesia zaman kelas 1 SD dulu. Ketika guru menginstruksikan, “Buatlah sebuah kalimat lengkap dengan SPOK!”, maka serta merta para murid membuat kalimat yang diawali dengan Subjek berupa nama orang, atau nama sapaan kepada seseorang, plus Predikat berupa kegiatan yang umumnya dilakukan orang tersebut dan Objek, serta sebuah Keterangan tempat atau waktu. Sesederhana itu.

 

Lalu…aku mulai memikirkan kepanjangan yang lebih masuk akal.


“Akademi Seni Musik Indonesia”….tapi kok di beberapa kesempatan aku melihat mahasiswa sana menggunakan seragam layaknya praja IPDN. Adakah sekolah musik yang sekaku itu?

 

Di kesempatan yang lain aku pernah melihat kata “MARITIM”  di sebuah spanduk yang dipasang di depan kampus, maka aku sempat menyimpulkan ASMI adalah Akademi Seni Maritim Indonesia…tapi mengapa harus ada kata “SENI”nya? Terdengar kurang pas.

 

“Tidak menunggu diberi tahu…tapi aktif mencari tauuuu”….

Pesan dalam salah satu lagu TN kembali terngiang-ngiang…..aku masih penasaran dan masih mencari tau.

 

Akhirnya aku mulai bertanya ke orang-orang.

“Tau kepanjangan ASMI ga?”

“Ngga tau…”, sahut temanku

“Bukannya yang maritim-maritim gitu ya?”, yang lain balik bertanya.

“Terus S-nya singkatan dari apa?” Aku semakin bingung.

“Kalo yang maritim itu AMI, kampusnya itu tepat di belakang ASMI”, seseorang yang lain menimpali.

 

Terjawab satu teka teki….ASMI ga ada hubungannya sama ilmu maritim, apalagi seni maritim.

 

“Jadi kepanjangannya apa?”, aku mengembalikan percakapan pada topik utamanya.

“Ngga tau deh….”, sama aja.

 

Akhirnya….

Aku cari di google dengan beberapa kata kunci….

Tidak berhasil…aku mencoba search dengan kata kunci lain….

Bahkan setelah masuk ke situsnya pun aku belum juga berhasil menemukan kepanjangan ASMI. Aneh.

 

“Ya ampun Put…niat banget ampe nyari di google?!?!”, kata temanku.

“Ga apa-apa…pengen tau aja”, kataku datar. Memang, aku sangat ingin tau.

 

Cari dan cari….dan….yak….nemu juga…..

“Ooooohhhh…..Akademi Ilmu Sekretari dan Manajemen Indonesia”, oooooooooooohku panjang, diikuti ooooooh-oooooooh yang lain dari teman-teman.

Mar
16

Siapa yang tau gue lagi pake earphone? Ga ada yang tau. Tapi tetep aja ngga leluasa.

Barusan dengerin interlude and lagunya Project Pop……..HAHAHAHAHAHAHA Lucu banget!!!! Duuuhh…..gue menderita banget nih….sakit perut…pengen banget ketawa ngakak….tapi apa nggak dikira gila nanti.

Mar
15

Aku udah selesai baca “Catatan hati Seorang Istri”. Asma Nadia dan kawan-kawan…..

Buku yang layak dibaca. Tapi…jujur…membuat aku ngeri membayangkan kehidupan para istri di buku itu yang pengalamannya…luar biasa menyakitkan. Dikhianati, dikhianati, dikhianati, atau disakiti dengan cara lain….Mungkin buku itu tidak cukup mewakili catatan hati seorang istri yang memiliki kehidupan yang bahagia bersama suaminya. Tapi catatan demi catatan di buku itu berhasil menarikku kembali ke masa sekitar 8 tahun silam dimana sebuah kasus menyakitkan seperti itu pernah membuatku sampai berpikir,”Kalo Mamah dan Bapak pisah, aku harus ikut siapa?”

Hanya salah paham….semuanya terselesaikan dalam hitungan minggu. Lama. Tapi yang terpenting bayangan-bayangan buruk tentang perpisahan itu tidak pernah terjadi.

Selalu begitu…perseteruan antara orangtua selalu menimbulkan korban lain yang mungkin lebih tersakiti hatinya. Anak. Ya…dan aku pernah merasakan posisi yang sangat tersakiti itu. Mau kabur, tapi kemana? Mau mendamaikan, tapi dengan cara apa? Mau apa-apa, kok serba salah? Akhirnya aku hanya diam. Berangkat ke sekolah sepagi mungkin. Pulang sesore mungkin. Beranjak ke kamar tidur secepat mungkin. Menghindar. Aku ngga mau air mata ini tumpah di depan kedua orangtuaku. Dalam keadaan terlemah pun aku tidak ingin mereka melihatku lemah. Sehari…dua hari…seminggu…lebih dari seminggu, aku tidak ingat lagi dalam hitungan berapa lama perseteruan hebat itu (akhirnya) berakhir. Hanya suatu pagi, 8 tahun silam, aku merasakan kebahagiaan yang sangat ketika kedua orangtuaku sudah tidak lagi saling menegangkan urat mukanya.

 

Untuk orangtua manapun di dunia….bacalah catatan hati dari seorang anak ini.

Mar
09

Kemarin Bapak tepat berusia 56 tahun. Secara resmi, kemarin Bapak pensiun dari BUMN tempatnya bekerja. Sedangkan, sebagai pegawai negeri, Bapak sudah pensiun sejak beberapa tahun yang lalu.

Bapak sakit. Kata Mamah udah seminggu terakhir Bapak sakit, demam, batuk-batuk, tapi ngga mau ke dokter,”Kayak anak kecil…disuruh ke dokter ngga mau”, kata Mamah.

Bapak terlihat tua. Uban hampir merata di seluruh bagian rambutnya. Walaupun jarang sekali Bapak sakit, aku khawatir. Tapi Bapak dan Mamah (yang hari itu juga sakit) masih sempat mengantarkanku ke stasiun waktu aku mau kembali ke Jakarta.

Perjalanan kembali ke Jakarta hari ini lebih lama dari biasanya. Akhir dari long weekend sejak hari Sabtu sampai hari Senin ini membuat lalu lintas di Tol Cipularang padat merayap. Di tengah perjalanan tol aku terbangun. Aku merenung, melamunkan kembali apa yang telah kukerjakan di Bandung selama 2 hari terakhir. Lamunanku sampai pada Bapak dan Mamah. Kedua-duanya sakit, kedua-duanya sudah terlihat semakin tua. Tak terasa….aku tersedu. Dalam lirih aku berdoa,”Ya Allah….izinkanlah aku membahagiakan mereka. Jangan kau ambil mereka sebelum sempat aku mengantarkan mereka ke Tanah Suci, sebelum sempat mereka melihatku menggenapkan dien, sebelum sempat mereka melihatku menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain….sebelum sempat….sebelum sempat….”, aku semakin tersedu ketika tiba-tiba sekelebat bayangan tubuh dingin terbujur kaku melintas begitu saja dalam pikiranku.

Allah…jangan ambil mereka sebelum sempat…………………………………………..